Tampilkan postingan dengan label restoran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label restoran. Tampilkan semua postingan

30 Mei 2009

Ayam Goreng Fatmawati Review by The Foodster

We love fried chicken with hot white rice and recently there has been a lot of great Indonesian franchises offering this out there. Fatmawati is the latest in Indonesian restaurant chains, however this particular branch is run by a husband and wife team that is very proud of their food. And yes… you have to try the sup ekor here…
“Now take that kicap manis and squeeze some on the belinjo,” mmm… we are waiting for our food at Fatmawati and stuffing our faces with the keropok belinjo. There’s something addictive about these crackers, crunchy with a bitter edge and then with that dollop of sweet soy sauce… ‘berhantu’ as they call it. Anyway one of the main things you should really have here is the Sup Ekor or Sup Buntut. You can have it normal style in the soup, you can have it deep fried in batter (it’s a little like KFC batter) or you can have it barbecued. The last one, you can’t get it on the menu. Only people in the know, order this. So if you really want to sound like you know what you are talking about, get it barbecued or ‘bakar’.
With this order a side of Nasi Timbel. This rice comes wrapped up in banana leaf and it’s great. There’s not a lot of starch content so it falls in grains- what we call ‘ceroi’. This goes really well with the soup. As for the soup itself it is light but has a lot of flavour. Usually light sup ekor comes swimming in MSG to give it punch. But here they have their balance of flavours right with good marrying of ‘bumbu’ that brings out the flavour of the meat. They also add a bit of fresh tomatoes to get a sour edge to it that is different from Malay sup ekor which usually derives flavour from celery.
Now the barbecued oxtail comes on the side dripping with flavour. We reckon thay marinate it with kicap manis and some pepper and whack it on the grill so everything seeps deep in. The meat practically falls off the bones. We suspect they boil the meat first in the soup to render it soft before massaging the kicap in and then grilling it on a high flame. Both the barbecued and deep fried versions come on the side so that it does not disturb the subtlety of the soup. So you can eat it in relay, alternating mouthfuls of savoury soup with sweet oxtail meat and rice.

“The barbecued oxtail comes dripping with flavour”

They also have their own version of what is now the infamous ayam penyet. However, they use ayam kampung here so it’s smaller but a whole lot tastier. You can have it grilled or fried. We prefer the fried version because it’s not too oily and the chicken remains succulent. They also give a bit of crunchy ‘rempah’ with it. The side sambal that goes with it is killer and coupled with sweet kicap… damn…
We are starting to really get into Indonesian kicap manis. It just goes great with everything. If you ever get your hands on nasi goreng belacan with cilli padi just a spray of this kicap will take you into another level. Malaysians have nothing on Indonesians when it comes to kicap manis. Some do like the chicken grilled but this version has a very strong taste of coconut to it so we recommend the ayam goreng for first timers.

Over there they also have great set lunches. If you order the meals ala carte, you have to order the rice separately. Set lunches are fantastic value for money. For RM7.70 you can get the ayam kampung goreng with tempe, tauhu, soup, sambal and a drink. They also have Teh Botol here in a box and thick creamy avocado shakes.

FOODSTERS’ VREDICT
Pros:
Great bang for your buck
Cons: Service a bit erratic during busy times

Address: G-18, Jalan PJU 8/3, Bandar Damansara Perdana, 47820, Petaling Jaya – Malaysia
Telephone: 03- 77109158

Source : http://www.friedchillies.com/index.php/site/detail/ayam-goreng-fatmawati

SMS Center. +62 813 1917 8155

08 Mei 2009

Antara Lapangan Volly, Kampus dan Ayam Goreng Fatmawati

Proliga adalah kompetisi bola voli profesional tahunan di Indonesia. Proliga pertama kali dilaksanakan pada tahun 2002 tepatnya dari tanggal 1 Februari sampai dengan 7 April 2002 dan digelar di lima kota yaitu: Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta dan Gresik. Dengan partai finalnya akan dilaksanakan di Jakarta, tepatnya Istora Gelora Bung Karno di kompleks olahraga Gelanggang Olahraga Bung Karno.
Peluncuran Proliga merupakan hasil terobosan Ibu Rita Subowo yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Umum PP PBVSI. Beliau melihat adanya kemunduran bolavoli baik dari segi pembinaan, kompetisi, maupun prestasi, untuk itu perlu adanya kompetisi yang lebih profesional.
Melalui Kompetisi Bolavoli Profesional PROLIGA, Ibu Rita berharap popularitas bola voli yang semakin menurun di masyarakat akan menjadi bergairah kembali.
Muhammad Riviansyah, 25 tahun, seorang pemain volly nasional yang berada di bawah naungan Club B2B Sananta merupakan salah satu spiker facorit. Riviansyah berhasil membawa Sananta menjadi runner up pada Proliga 2009 yang lalu.
Selain sebagai atlit volly, Rivi juga merupakan mahasiswa Trisakti. Disela aktifitasnya sebagai atlit dan mahasiswa, Rivi sering menghabiskan waktu luangnya pergi ke food court di beberapa mall, hanya untuk ngopi atau hang out dengan teman-teman. Saat ditanya mengenai makanan favortnya, Rivi menjawab dia lebih sering makan masakan tradisional, terutama masakan sunda sayur asem dan ayam goreng di Ayam Goreng Fatmawati.
Masakan Ayam Goreng Fatmawati memang digemari oleh pada umumnya angota keluarga, mulai dari orang kantoran, ibu rumah tangga, wanita karier, pengusaha, penjaga toko, anak2 dan seterusnya. Dan kini, menu Ayam Goreng Fatmawati semakin bervariasi dengan diciptakannya menu-menu baru. Ayam Goreng Fatmawati, memang Terpercaya dalam Rasa.

Sumber : id.wikipedia.org, bolavoli.org, volimania.org
SMS Center. +62 813 1917 8155

10 Februari 2009

Bagaimana Menilai Lokasi

Dalam bisnis restoran ada tiga faktor utama yang sangat menentukan keberhasilannya. Adalah LOKASI-LOKASI-LOKASI. Ya, memang benar. Dalam bisnis restoran, lokasi sangat memegang peran penting terhadap kesuksesan. Lalu muncul pertanyaan “Bukankah ‘Sate Klatak’ di Bantul-Jogjakarta lokasinya jauh dari strategis tapi bisa berhasil?” Memang, warung sate itu bisa berhasil. Namun, butuh berapa lama bagi mereka untuk mendapatkan pelanggan sebanyak saat ini? Atau, butuh berapa biaya promosi untuk memperkenalkannya kepada calon customer?
Lokasi yang strategis mempercepat proses pengenalan dan mengurangi budget promosi, tanpa mengurangi peluang untuk mencapai keberhasilan usaha. Jadi, jangan ambil resiko dengan bujukan marketing mall, pusat perbelanjaan, plaza, square, trade center dll yang menjanjikan bahwa lokasi tersebut bakal ramai pengunjung berbelanja. Selidiki developer dan pengelola pusat perbelanjaan tersebut, Duta Pertiwi, Lippo Group, Summarecon, Agung Sedayu adalah beberapa developer yang jika dilihat dari track record-nya bisa dikatakan baik dan berkomitmen untuk membuat pusat perbelanjaan yang terus ramai pengunjung. Lalu, lihatlah anchor tenant pusat perpelanjaan tersebut. Carrefour, Hypermart, Giant pada umumnya menjadi achor tenant di beberapa mall besar. Namun saat ini kita harus lebih jeli, karena Giant sudah merambah ke pinggiran dengan konsep seperti minimarket. Carrefour saat ini banyak mengembangkan Carrefour Express yang lebih kecil dari Carrefour hipermarket.
Pada umumnya tenant-tenant besar sekelas KFC, McDonalds, J.Co, BreadTalk dll masuk terlebih dahulu sebagai tenant mall. Lantas, apakah mal dimana salah satu space-nya ditawarkan ke kita telah berhasil menarik tenant-tenant besar tersebut. Jika KFC atau bahkan McDonals telah masuk di daftar tenant mereka, maka hampir dapat dipastikan mereka (KFC dan McDonalds) telah menilai lokasi tersebut sangat potensial untuk bisnis makanan. Trik seperti ini pula yang dijalankan oleh Alfamart dan Indomaret dalam penentuan kelayakan lokasi, sehingga saat ini hampir setiap kali kita menemui Alfamart, maka paling tidak dalam jarak 100 meter dari lokasi tersebut beroperasi juga Indomaret, atau sebaliknya. Keuntungannya, mengurangi biaya untuk survey pasar.
Pertimbangkan harga sewa. Dengan konsep makanan tradisional dengan persaingan harga yang ketat, maka margin dari setiap barang terjual tidak bisa lagi lebih dari 100 persen. Karena itu, kami merekomendasikan bahwa biaya sewa atau bagi hasil untuk sewa tempat tidak melebihi 20% dari perkiraan pendapatan per bulan. Dengan demikian, jika potensi konsumen tidak dapat memenuhinya, maka disarankan lokasi tersebut tidak diambil.
Lalu, menurut ActionCOACH yang diulas disini mengenai bagaimana cara meningkatkan profit, tetap harus dijalankan. Bagaimana caranya...? Tunggu edisi selanjutnya di Forum Franchisee Ayam Goreng Fatmawati.


Kinanti Office, Hotel Salak The Heritage Lt. 2
Jl. Ir. H. Juanda No. 8 Bogor 16121
Tlp. +62 251-8347 620 Fax. +62 251-8347 608
Call Center & SMS. +62 251-4784 895
marketing@fatmawati.com www.fatmawati.com

02 Februari 2009

Promosi, sebuah kerharusan dalam berbisnis

Dalam bisnis restoran, pada umumnya terdapat empat kemungkinan perkembangan penjualan restoran.
  1. Booming pada awal beroperasi dan stabil pada omset tinggi setelah beroperasi cukup lama
  2. Booming pada awal beroperasi dan terjadi penurunan omset secara perlahan tapi pasti
  3. Tersendat pada pertama kali buka, namun makin membaik seiring waktu
  4. Tersendat pada pertama kali buka dan terus menurun seiring waktu.

Setiap pengusaha pasti menginginkan pilihan pertama terjadi pada setiap bisnis restorannya. Tentunya poin pertama hanya akan terjadi bilamana mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi berjalan dengan baik. Dengan kata lain, booming dan bertahan pada omset tinggi adalah kondisi ideal yang menjadi keinginan seluruh pengusaha. Namun, apa yang harus dilakukan untuk mencegah penurunan omset seperti pada point 2 dan 4, atau bahkan omset ingin ditingkatkan lagi seperti point 3? Selain harus melakukan cara-cara ini, bisa juga dengan melakukan promosi yang konsisten.

Karakter manusia pada dasarnya ingin semuanya serba cepat terlihat pengaruhnya. Tak heran jika obat herbal/jamu cenderung kurang diminati masyarakat hanya karena tidak mengakibatkan kesembuhan seketika seperti obat-obatan kimia. Begitu juga dalam berpromosi, banyak yang beranggapan melakukan promosi dalam waktu sebulan namun belum terlihat pengaruhnya merupakan suatu kegagalan berpromosi. Evaluasi memang mutlak diperlukan untuk mengukur efektifitas promosi, namun bukan berarti dalam jangka yang sangat pendek.

Kami sering mendapat keluhan dari beberapa rekanan yang program promosinya mereka nilai belum berhasil. Namun saat saya tanya, berapa lama anda melakukan promosi? Jawabannya cukup mengagetkan, "Dua Minggu". Untuk lokasi restoran di pusat perbelanjaan, sangat jarang orang berkunjung ke mall yang sama dalam waktu dua minggu. Bisa saja agenda customer berkunjung ke mall tersebut sebulan sekali, sehingga baru terlihat pengaruhnya bulan berikutnya, karena orang yang kita beri informasi tidak serta merta memutuskan langsung untuk kembali ke restoran yang sama saat menerima informasi mengenai restoran yang kita kelola.

Tips Promosi :

  1. Promosi harus konsisten, bagaimanapun kondisi restoran kita : ramai, sedang atau (apalagi) sepi, maka promosi harus tetap dijalankan.
  2. Ketahui apa yang diharapkan customer dari restoran kita, sehingga kita bisa berpromosi sesuai dengan apa yang mereka inginkan
  3. Kreatif berpromosi, temukan cara dan media yang unik
  4. Ketahui waktu-waktu restoran sepi (hari dan jam), lalu buat program untuk menarik orang pada waktu-waktu tersebut
  5. Jangan pernah ada kata puas, teruslah berpromosi sepanjang waktu
Kinanti Office, Hotel Salak The Heritage Lt. 2
Jl. Ir. H. Juanda No. 8 Bogor 16121
Tlp. +62 251-8347 620 Fax. +62 251-8347 608
Call Center & SMS. +62 251-4784 895
marketing@fatmawati.com www.fatmawati.com